Text
Gus Sholah Telaga Kebermanfaatan dan Kebaikan (Edisi Khusus) Majalah Tebuireng Edisi 67 (E-book)
“Jadilah kamu manusia yang pada kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tetapi hanya kamu sendiri yang menangis dan pada kematianmu semua orang menangis sedih, tetapi hanya kamu sendiri yang tersenyum.â€
Seorang bijak bestari pernah mengatakan ungkapan di atas sebagai sebuah pesan bahwa seseorang dalam memerankan kehidupannya harus memberi banyak manfaat yang baik pada orang lain. Semakin besar kehadiran kebermanfaatan orang tersebut, akan semakin banyak pula tangisan sedih saat mereka pergi.
Sekiranya itu yang kami rasakan dan juga bangsa Indonesia pasca kepergian seorang kiai yang bersahaja, berwibawa, dan menentramkan. Cucu salah satu pendiri bangsa dan ulama terkemuka di Indonesia, cucu Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari. Kami memanggilnya Gus Sholah. Sebuah panggilan kesayangan pada panutan yang sebetulnya memiliki nama asli Salahuddin Al Ayyubi (kemudian dikenal luas sebagai Salahuddin Wahid).
Rangkaian buket bunga bela sungkawa membanjiri Pesantren Tebuireng, ditambah lantunan kalimat Tauhid, sendu, tangisan, pilu, dan duka cita beraduk menjadi pusaran besar mengitari dan mengantarkan keranda yang berisi jenazah orang mulia ke peristirahatan terakhir, untuk menghadap Sang Pencipta kehidupan.
Kehadiran edisi khusus tentang KH Salahuddin Wahid dalam kesempatan ini bukan dalam rangka membuka kembali luka pasca ditinggal pergi sang kekasih agar bersedih. Melainkan sebuah sajian untuk membaca manaqib (biografi yang baik) untuk diteladani kebaikannya sebagai salah satu wujud taat kepada Allah karena akan menimbulkan kebaikan. Sekaligus memantapkan diri untuk menyontoh segala teladan dari para pendahulu. Dan terakhir adalah dalam rangka mendoakan para pendahulu. Mengutip sebuah Hadis, “Barangsiapa yang mendoakan kepada orang lain secara ghaib, tidak di depan mukanya, tidak di depan orangnya, apalagi sudah meninggal, maka malaikat akan membisiki doa kepada kita, kamu juga.â€
Ada banyak hal tentang KH Salahuddin Wahid yang kami sajikan dalam edisi ini yang mungkin tidak banyak orang tahu. Satu hal pula yang penting diingat bahwa Gus Sholah memiliki daya jelajah kebermanfaatan yang luas. Karena tingkat kebaikan seseorang diukur dari seberapa besar dia mampu memberi manfaat pada manusia yang lainnya (khoirun naas, a’nfauhum lin naas). Dan sejatinya seseorang yang berbuat baik pada lian adalah berbuat baikuntuk dirinya sendiri.
Sosok berkaca mata ini memiliki banyak sisi yang semakin banyak dipelajari akan menyebabkan membuncahnya kekaguman. Merangkum figur besar seperti Gus Sholah dalam wadah yang terbatas bukanlah hal mudah. Karena masih banyak hal lain yang mungkin tidak tercatat. Paling tidak tulisantulisan di dalamnya menjadi pemantik kita bersama untuk melanjutkan perjuangan beliau dan terus melangkah mewujudkan cita-cita besarnya. Wallahu ‘Alam bis sowab. (Tim Redaksi)
Tidak tersedia versi lain